Pengalaman untuk dikisahkan



“Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu.” Andrea Hirata

             Jika boleh berhipotesis bebas, maka saya akan berkata bahwa mungkin salah satu keindahan dalam hidup adalah ketika kita bebas untuk menciptakan dan percaya atas mimpi mimpi yang kita buat. Setiap fase yang kita jalani dalam hidup semata adalah sebuah proses panjang dan berkesinambungan bagi kita untuk mengejar mimpi mimpi yang kita buat sendiri. 

            Nama saya Muhammad Lutfi salah satu dari 15 siswa pertukaran pelajar INAYPS’10-11 yang di asuh Bina Antarbudaya yang di tempatkan di Negara Amerika Serikat. Saat ini saya bersekolah di Southland High School, Adams, Minnesota yang Insya Allah berjalan selama satu tahun pelajaran.  Setiap orang pasti punya latar belakang masing masing untuk mengikuti program pertukaran pelajar. Terlepas, dari apakah nantinya dapat beasiswa ini, buat saya pribadi proses seleksi yang panjang dengan segala penantian yang kadang melelahkan itu sendiri sedikit banyak sudah merubah karakter diri saya. So I’d say to every eligible high school students. Being involved in the process alone is totally worth all the expectation gains and losses. I personally recommend this. 

            Nah, kemudian apa sih yang menjadi bagian menarik ketika berada di Negara orang lain selama kurang lebih 11 bulan? Yang unik adalah bagaimana setiap anak pertukaran pelajar di sini masing masing punya pengalaman yang unik. Tapi yang lebih penting itu adalah bagaimana makna pengalaman kita di sini tuh berdampak langsung kepada individu individu kita masing masing. Proses Orientasi Nasional yang di adakan selama seminggu sebelum keberangkatan buat saya bener bener mensimulasikan betapa bulan bulan pertama itu ga akan mudah.
            Saya sendiri sih, ga pernah ngadepin masa masa cultural shock yang terlalu berat. Kuncinya adalah keterbukaan untuk memahami budaya baru.  Tapi yang namanya hidup konflik bagaimanapun pasti muncul. Kalau lagai galau biasanya  kata kata kakak orientasi selalu terngiang bahwa hidup ga selalu harus penuh keindahan. Buat saya pribadi, sayabanyak belajar dari kesempatan ini. Secasi-cus apapun saya ngomong bahasa Inggris di Indonesia , bahasa selalu jadi tembok besar yang saya coba dobrak atau setidaknya saya kikis sedikit sedikit. Language barrier memang jadi salah satu concern saya sebelum berangkat ke sini. Tapi dari keterbatasan komunikasi kita itu pula akhirnya saya dan para bule di sini belajar bagaimana untuk saling memahami. 

            Karakter saya di uji mati matian selama berada di negeri orang lain, bagaimana kita bisa beradaptasi sebagai orang Indonesia tanpa menyerahkan nilai nilai moral yang kita pegang, tapi juga sekaligus menjaga sikap kita untuk senantiasa terbuka supaya proses memhamai budaya baru ini berjalan semestinya. Simpel saja, seperti menjaga supaya bisa tetap sholat dan tidak makan babi. Kadang rutinitas seperti itu bisa jadi tantangan yang tidak mudah untuk di lakukan. Saya juga belajar banyak bagaimana sebenarnya dari segi pemahaman moral, kita punya banyak kesamaan. Lalu, kemudian saya belajar lagi bagaimana kondisi sosial masyarakat di sini berkembang, yang kemudian menjadikan masyarakat Amerika seperti apa adanya sekarang.

            Di keluarga, saya tinggal bersama keluarga Smiths, pengalaman menjadi bagian dari keluarga baru mungkin adalah merupakan pengalaman yang terbaik yang pernah saya rasakan. Betapa mereka secara terbuka menerima perfect stranger  ke kehidupan mereka, berbagi ruang dan perhatian dalam keluarga dengan segala dinamika konfliknya. Saya belajar untuk mencintai keluarga baru ini, dan jauh di lubuk hati juga membangun cinta yang jauh lebih besar lagi kepada keluarga  saya di Indonesia. 

            Bulan ini adalah bulan ke-empat saya berada di Amerika dan konflikpun mulai bermunculan, kadang merasa jenuh, kadang homesick singgah ke hari hari saya di sini. Sekali lagi saya teringat , bahwa pengalaman ini adalah sebuah pengalaman tentang hidup yang utuh, dan kemudian saya merasa lucu bagaimana sebenarnya posisi saya di sini adalah posisi yang sangat di harapkan orang lain. Maka sebagai rasa syukur saya berjanji pada diri saya sendiri, untuk menghormati mereka yang tidak seberuntung saya selama proses seleksi, bahwa pengalaman ini harus saya pakai untuk mendewasakan diri saya sematang mungkin dan kemudian bisa saya bagi ke orang lain. 

Inilah semangat yang kakak kakak returnee coba tanamkan selama proses orientasi, bahwa kesempatan ini bukan kesempatan satu orang, ini kesempatan untuk seluruh bangsa, ini adalah sebuah kesempatan untuk di kisahkan ke sebanyak mungkin orang. kesempatan kebersamaan dengan semangat satu untuk semua.  Kesempatan untuk membangun sebauh bangsa yang besar, bangsa kita tercinta, Bangsa Indonesia. 

            Kesempatan ini adalah hasil kerja keras kakak kakak volunteer di limau dan semua keluarga besar keluarga Bina Antarbudaya, Para penghuni kantor Limau yang setia. Kak Sari atas semua saran dan dukungannya, kak Sri atas semua surat suratnya yang terkirim dengan baik, terutama support letternya. Kakak panitia Orientasi dan semua yang menjadikan pengalaman ini tak terlupakan. Umi, Abi dan keluarga di rumah tercinta. Smiths Family; Tracy, Rick, Jonah, Kinzie, Granma/pa Murphy, Zach, Haley, Trent, Tamy. Local Coordinator Tammy. US Dept of State, Youth Exchange and Study program, dan PAX program. Rasa Syukur dan Terima Kasih saya haturkan sebesar besarnya atas dukungan dan kerja keras mereka yang menjadikan mimpi ini sebuah realita bagi saya. 

            Dare to dream and fight for it. Greatness awaits those who dare to soar.

Minnesota, January 22nd 2011. 

Di tulis dihari hari terdingin di Amerika selama dekade terakhir. Suhunya mencapai minus 20 derajat Fahrenheit. Tapi dengan semangat yang membara semoga yang membaca bisa merasakannya. :)

Comments

  1. wow, you're so cool !
    jadi masih di Amrik nih?
    btw, salam kenal ya :)
    bagi2 tips dong, gimana carax bisa lolos test AFS :)

    ReplyDelete

Post a Comment

kindly share your thoughts

Popular posts from this blog

Perjalanan Memahami Politik Setelah Pemilu

how to stay sane (Repost from September 2012)

Letting Go