Sebenarnya Hidup, ( dari Prosa Dee di Filosofi Kopi)
Semakin usia menjarak, semakin menjerat, semakin pekat , gelap
Semakin mimpi mendekat, bukan lagi cahaya terlihat, hanya penat yang semakin mengendap
Sederet ambisi, itukah yang kita kejar siang malam?
Sejauh ini, lalu inikah yang kita cari?
Hidup yang kita jalani, hanyalah episode yang silih berganti
Menikmatinya kita perlu kacamata yang tak selalu baru
Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya.
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya. Namun masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu masih kerdil dulu ? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksaksa dan setetes embun bagai bola kaca dari surga, tatkala ia tak peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik ?
Jembatan Zaman, Filosofi Kopi
Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini burung besar bahkan bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yang hanya menggeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi.
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu.
Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil atau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan ? Karena kita tumbuh ke atas tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.
Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri.
melihatnya dengan lebih seksama memberi kita kesempatan dalam memahaminya
memahami cara berhidup agar di hidup yang sebentar ini,
kita masih dapat bertahan lebih lama dari yang seharusnya
supaya dengan waktu yang singkat ini, kita masih dapat meninggalkan makna
Di hamparan gurun yang seragamSalju Gurun, Filosofi Kopi
janganlah lagi menjadi butiran pasir
Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu,
takkan ada yang tahu jika kau melayang hilang.
Di lingkungan gurun yang serba serupa,
untuk apalagi menjadi kaktus.
Sekalipun hijau warnamu, kau tersebar diman-mana.
Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.
Di lansekap gurun yang mahaluas,
sebaiknya tidak menjadi oase
Sekalipun rasanya kau sendiri,
Burung yang tinggi akan melihat kembaranmu disana-sini.
Di tengah gurun yang tertebak,
jadilah salju yang abadi.
Embun pagi takkan kalahkan dinginmu,
angin malam akan menggigil ketika melewatimu,
oase akan jengah dan kaktus terperangah.
Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi,
atau sekedar bergerak dua inci.
Dan setiap gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka,
kau berani putih meski sendiri.
Karena kau.. berbeda
Kadang pun kita masih saja jengah
dan tak mampu melepaskan diri dari perangkap kejenuhan
kejenuhan di tengah orang tersayang, dan limpahan kasih sayang
mungkin jarak, jarak akan memberi kita makna yang hilang
seperti pepatah, kita baru memahami sesuatu yang berharga, pada saat kita sadar kita taklagi memilikinya
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda??
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.
Taken from : Filosofi Kopi by Dewi Lestari
Semoga dengan Spasi, Jembatan Zaman, dan Salju Gurun ini, kita semua bisa belajar satu hal lagi untuk sebenarnya hidup . Hidup yang bermakna, dan yang berbeda.
=)
-thx dee for the inspiration, you guys gotta buy the book! Filosofi Kopi-
Old notes from my PC archive
Comments
Post a Comment
kindly share your thoughts