Choice - Old post when I was only 19 :'

Hidup adalah serangkain keputusan yang kita ambil.
keputusan yang merangkai paragraf demi pragraf cerita kehidupan yang kita buat sendiri, dengan kita sebagai karakter utamanya.

Bulan lalu, saya semakin menjadi tua saja, kini saya berusia 19 tahun 1 bulan kurang. Sebelumnya umur hanya seperti serangkaian angka, tapi nyatanya sama seperti berat badan, ketika angkanya membesar ternyata berbuah kegalauan juga.

Di umur yang semakin renta ini, threshold sebelum tahun depan saya bisa di bilang berkepala dua, dan sudah hidup kurang lebih 2 dekade, (I have a goosebumbs just by imagining) tentu banyak yang telah saya peroleh.

Namun seperti layaknya setiap kegalauan yang membawa kita termenung, tuanya saya justru membuat saya takut. takut untuk jadi dewasa, takut meninggalkan masa remaja yang penuh rasa menyenagkan dan pragmatisme.

apa saya siap? siap untuk melepas atribut atribut keremajaan dan beranjak dewasa? atau selamanya saya terjebak di batas realita, yah sama saja seperti keengganan kita ketika melepas fakta bahwa kita-bagaimanapun kita menentang- sudah bukan anak anak lagi. huft. (this fact doesnt stop my best friend from eating baby food,though)

Sebenernya saya tidak usah buru buru memikirkan tentang kedewasaan. hidup kita bebas kita yang menentukan, tapi hanya saja- terkadang saya sendiri jenuh loh- dengan konsep hidup saya yang masiih saja tidak jelas. masalahnya, konsep yang belum matang membuat kita sering bimbang- dan gelisah-dan hampa --> ini semua jelas kontra produktif bagi remaja seusia saya yang tergila gila dengan produktivitas dan progress

konsep yang mentah dan cupu juga membuat gua gampang terombang ambing arus pergaulan. dan terjebak di pertentangan anatara perasaan ingin berkomitmen dengan keinginan merdeka dan mandiri dari apapun (termasuk peraturan peraturan yang sebagai remaja-saya pandang terlalu rigid,kuno dan membosankan)

harus di akui juga, bahwa dunia ga selalu abu abu- ada hitam putihnya juga. menjadi seorang pendamai yang mengkompromiskan nilai kepercayaan saya sendiri itu tidak selamanya bijak dan tepat. kadang memang harus ada konflik yang harus kita berani hadapi- untuk membuat kita belajar tentang diri kita masing masing. tentang pandangan kita sendiri, tentang paragraf cerita ini yang kita gores dan review setiap hari.

menjadi dewasa itu ga mudah, harus ada yang kita tinggal. dan seringkali hal yang sepertinya terlihat menyenangkan- bukan artinya saya saklek dengan mitos masyarakat tentang apa itu dewasa, tapi memang ada konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil. dan sebaiknya kita benar benar paham tentang hal itu.

menurut saya, kedewasaan yang paripurna adalah bisa menjadi nyaman dengan diri sendiri apa adanya, tentang nilai nilai dan kepercayaan yang kita percayai benar- level berikutnya adalah memahami kenapa apa yang kita percayai benar - setidaknya memiliki beberapa lines argument untuk itu- dan bisa menjelaskannya ke orang lain dengan bijak.

kedewasaan haruslah punya tolak ukur yang jelas. dan menurut saya hal yang paling utama adalah kontrol diri. dewasa artinya tidak lagi impulsive dan terombang ambing pasang surutnya perasaan/mood tapi mampu mengontrol kebutuhan kebutuhan emosional sekaligus dapat memenuhi tuntutan untuk tetap rasional. kontrol dirilah yang membuat kita bebas untuk kapan saja memutuskan lepas dari kebiasaan kebiasaan yang merusak atau tidak sehat,  seperti merokok, ceroboh, dll. kontrol diri merupakan suatu hal yang susah sekali saya capai. -tapi setidaknya di umur saya yang renta ini saya berjuang melatihnya. haha

saya sebenernya bingung, banyak sekali konsep saya tentang dewasa- hanya saja konsep itu tercecer cecer dan tidak tersusun dalam suatu pemahaman yang terkonsep. tugas saya adalah mengarsif pengetahuan saya serapih rapihnya, agar suatu saat kelak, semoga itu ga lama.gua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan "dewasa". dewasa bukan karena umur, tapi karena kredibiltas saya mengasung gelar itu.

nevertheless, even though being a teenanger is cool. being a real adult is the coolest you can ever become.

Godspeed, Me!

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Memahami Politik Setelah Pemilu

how to stay sane (Repost from September 2012)

Letting Go