Tentang kami (post-oskm thoughts)


Di tulis tahun 2012, as a freshman yang lelah hatinya di perintah menuliskan misi hidup dalam 15 menit oleh kakak taplok.

Tongak sejarah itu di mulai di kampus. Idelologi pun bersemai semasa pembelajaran dan berproses di kampus. Siapa yang bisa dengan nyenyak tertidur setelah seharian di konfrontasi dengan persoalan bangsa yang memang pada kenyataanya masih menumpuk.

Siapa yang bisa berleha leha setelah di kritisi dengan kalimat, “pantaslah kalian menjadi mahasiswa?”
Bahkan masih jelas terngiang dan menjadi mimpi buruk yang redundan, sebuah kalimat: apakah pantas saya?
Jika dapat, saya juga ingin ikut menyuarakan apa yang mungkin banyak pemuda seumur saya pikirkan, dan memang selayaknyalah kami berpikir.
Tentang diri kami sendiri, Siapakah yang tidak pernah merasa lemah seakan ruas ruas rusuk tak sanggup menopang beratnya beban yang kehidupan bawa dalam hembusan  hembusan dingin.
Siapakah yang tidak merasa gundah, sebagai anak muda, ketika keunikan kita di rampas, lalu di sejajarkan setara dengan yang lain atau istilahnya, di-standardisasi-kan.
Dan ini senantiasa terjadi sejak pendidikan dasar hingga ke jenjang menengah atas.
Melawan berarti pembangkang
Berdiam menjadi pengecut
Perbedaan mutlak tabu, dan di tekan untuk di hilangkan.
Kegagalan di takuti, sebuah kejadian seperti mendapat nilai buruk seperti menjadi cap yang tak akan hilang
Kesempatan hanya ada bagi mereka yang di pandang mampu. Lalu hanya merekalah yang dapat berkembang, mayoritas lain, terkurung dalam kepompong tanpa pernah sempat bertransformasi.
Sebagian kami, telah deras emosi yang kami kurung, seperti awan panas yang mengumpul, menekan kami dari dalam, siap untuk meledakan kami.
Sebagian kami, telah merah darah kami yang di takdirkan untuk melakukan perlawanan terhdap kondisi yang kami sayangkan terjadi di negeri tercinta ini.
Kami berteriak habis tanpa pernah gemanya terdengar, Kami meracau di sana sini hanya untuk di anggap sebagai pembangkang, dan remaja aneh.
Jangan salahkan kami dengan idealisme idealisme yang beku mengkristal, saat situasi di negeri ini memang pada kenyataannya akan menjadikan mereka yang meniupkan perubahan merasa terasingkan, berbeda, dan tanpa teman.
konformitaslah yang kami dapat ketika kami menggaungkan trend dan mengisi hidup kami dengan cerita cerita khas keremajaan, yang penuh cinta, canda, dan tawa.
Maka mimpi itu yang sempat menetas untuk mengubah bangsa ini, terlanjur mengkristal tanpa pernah sempat berkembang menjadi besar.
Jangan kritisi kami, apakah kami pantas. Karena kami siap untuk memantaskan diri.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” Soe hok Gie
Jangan kritisi kami apa kami pantas, karena kami bagian dari rakyat yang telah tumbuh dari dekat. Kami bagian paling konkrit dari sebuah Integrasi untuk Indonesia.


Comments

Post a Comment

kindly share your thoughts

Popular posts from this blog

Perjalanan Memahami Politik Setelah Pemilu

how to stay sane (Repost from September 2012)

Letting Go