Agama
Mungkin sudah bukan saatnya lagi mempertanyakan agama, sudah bertahun tahun saya mengkritisi agama tanpa mendapat jawaban yang definitif tentang hal hal yang saya anggap penting. Namun, bukan berarti perjalanan saya mengikuti "why?" tidak memberikan saya pelajaran apa apa. Hanya saja saya berfikir sekarang saatnya untuk memberi titik dan menyimpulkan sesuatu.
1. Konsepsi Pribadi tentang Agama
Awalnya, skpetisisme saya mengenai agama lahir dari keraguan saya tentang validitas dogma agama itu sendiri. Apakah Tuhan benar benar menurunkan burung ababil yang mengambil batu dari neraka untuk menghancurkan tentara gajah seperti di tuturkan Al-Quran? Apakah Tuhan secara literal benar benar menampakan diri ke Musa kira kira 2000 tahun yang lalu? Apakah Tuhan benar benar ada?
Namun, ketika kita pertimbangan, keraguan saya tidak lahir secara objektif melainkan lahir karena saya tidak puas terhadap jawaban yang mengarah ke "Ada hal hal yang kita tidak mengerti, oleh karenanya agama itu aspeknya keimanan bukan rasionalitas.".
Pernyataan Quranic/ Biblikal yang mengatakan bahwa Isa lahir dari seorang perawan bukan cuma sekedar menurutkan keluarbiasaan, tapi lebih lagi klaim biologis yang sebenarnya bisa saja kita coba jawab secara rasional. Apakah DNA Isa mengandung kromosom Y? Munkinkah klaim serupa terjadi kembali?
Klaim agama seringkali kita perlakukan seperti kebenaran absolut di mana kita tidak mempertanyakan baik validitas maupun konsekuensi klaim atau dogma tersebut.
Namun juga banyak bukti bahwa Agama memberikan banyak sekali ketenangan dan arti bagi pemeluknya. Ini membuat saya berfikir, bahwa Agama lebih bersifat personal ketimbang sebagai suatu gerakan. Seringkali ketika Agama di buat menjadi alat kepentingan maka ia berubah menjadi alat utilitarian yang berkebalikan dengan pesan moral yang Agama itu sendiri coba ajarkan.
Oleh karenanya Agama lebih seperti sekumpulan pola pikir dan praktek ritual yang bisa saja merepresentasikan banyak sekali doktrin dan ajaran keimanan. Dalam sejarah manusia, agama muncul dan menghilang. Dalam sejarah itu Agama memberikan pencerahan dan makna hidup kepada manusia, kadang juga meberikan kebebasan atau jawaban terhadap hal hal yang kita manusia tidak mengerti. Agama yang lain memberikan pelajaran kesengsaraan. Agama Abrahamic seperti Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki banyak sekali persamaan sejarah. Mempertanyakan mana yang benar merupakan sebuah sikap yang natural, tapi klaim kebenaran ekslusif itu pula yang menjadikan tahun tahun peradaban manusia setelah kehadiran agama itu diwarnai dengan pertumpahan darah. Mulai dari Eksodus, Pensaliban Yesus, Perang Salib atau umumnya konflik memperebutkan Yerusalem. Sejarah membuktikan bahwa agama bisa di gunakan sebagai alat politik yang kotor hanya saja kita terlalu beriman untuk benar benar menyadari hal itu.
1.1 Signifikansi Agama
Sigmund Freud menganggap agama seperti penyakit mental (neurosis) pada anak anak. Dengan pemahaman tersebut, dunia kita penuh dengan 5 milyar pesakitan yang mempercayai Kristianitas (Katolik Roma, Protestan, Orthodoks)-lebih dari 2 milyar pemeluk, Islam (Sunni, Syiah, Wahabi, Liberal)-lebih dari 1 milyar pemeluk, Hindu-sekitar 1 milyar pemeluk, Budha (Theradava dan Mahayana)-lebih dari 350 juta pemeluk, sekitar 350 pengikut tradisi Cina seperti Confucianism dan Taoism, sekitar 300 juta pengikut Agama tradisional seperti Animisme, Shamanisme, dll, sekitar 25 juta Sikhs, 14 juta Yahudi, 7 juta Baha'i, 4 juta Jainis, dst.
1.2 Timeline Penting Abrahamaic Religions
Sebelum Masehi
1300 BCE - Musa dan Ten Commandement
1000 BCE- Kerajaan Israel oleh David/ Sulaiman (Solomon)
Setelah Masehi
4-30 - Yesus dari Nazareth
10-16 - Rasul Perjanjian Baru seperti Paul
30 - Penyaliban Yesus
50-100 -Penyusunan Bible
70 -Kuil di Yerusalem di hancurkan oleh pasukan Roman
325 -Christian Council of Nicaea (fokus pada Trinitas)
354-430 -Bapak Gereja Kristen St. Augustine
410 - Kejatuhan Roman
480-524 - Filsuf Kristen Roman Boethius
Medieval World
570-632 - Kelahiran Islam oleh Nabi Muhammad
800-866 - Filsuf Islam Al Kindi
870-950 - Filsuf Al-Farabi
980-1037 - Filsuf Islam Ibnu Sina (Avicenna)
1058-1111 - Filsuf Islam Al-Ghazali
1126-1198 - Filsuf Islam Ibnu Rushdi (Averroes)
1135-1204 - Filsuf Yahudi Moses Maimonides
1225-1274 - Filsuf Kristen St. Thomas Aquinas
1483-1546 - Reformis Protestan Martin Luther
1.3 Persamaan Tujuan Soteriologis Agama
Tujuan Soteriological (Salvation) beberapa tradisi Agama
A. Hiduisme
Tujuan soteriologis tertinggi adalah mokhsa yaitu keluar dari siklus hidup dan mati (samsara/ reikarnasi) dan menjadi bagian dari Brahman. Brahman adalah manifestasi realitas paling suci/ Tuhan. Manusia mencapai tugasnya saat menjadi atman (Atman berarti Brahman).
Ada tiga jalur (marga) menuju Brahman,
1. Jalur Ilmu (jnanamarga)
2. Jalur Kebaktian (bhaktimarga)
3. Jalur Aksi (karmamarga)
B. Buddhisme - Siddhartha "The Buddha"
Tujuan soteriologis tertinggi adalah nirvana, bebas dari siklus samsara, dan hilangnya segala nafsu, keinginan, dan penderitaan. Pencapaian manusia ketika mencapai kondisi anatman.
Hal ini di capai dengan pemahaman empat kebenaran utama yaitu:
1. dukkha: semua keadaan adalah penderitaan
2. trishna: semua kesengsaraan datang dari keinginan
3. nirvana: semua kesengsaraan bisa berakhir
4. cara mengakhiri kesengsaraan di dapat dengan melaksanakan astingika-marga, 8 jalur utama:
aspirasi yang benar, pandangan yang benar, ucapan yang benar, kelakuan yang benar, kehidupan yang benar, usaha yang benar, pikiran yang benar, konsentrasi/ meditasi yang benar.
C. Yahudi
Tujuan soteriologis tertinggi adalah di ridhai oleh Yahweh, di dunia maupun di akhirat.
Hal ini dapat di capai dengan memenuhi perintah ketuhanan (mitzvot) dengan mengikuti amalan (sim chat Torah / "the Joy of Torah")
1. Menaati Sabbath
2. Peribadatan Rutin di Synagogue
3. Merayakan festival tahunan
4. Mematuhi dengan ketat Aturan Yahudi
D. Kristianitas
Tujuan Soteriologis tertinggi adalah transformasi spiritual dan menghabiskan waktu bersama Bapak di Kerajaan Surga.
Hal ini ddapat di capai dengan
1. Ridha Bapak (charis) dalam bentuk penebusan oleh Yesus (hilasterion) terhadap dosa manusia yang lalu, dan akan datang (hamartion).
2. Mendapat ridha melalui iman (pistis) terhadap Yesus dan sacraments
3. Mengikuti hukum (nomos) Bapak karena rasa syukur akan ridhaNya
E. Islam
Tujuan Soteriologis tertinggi adalah ridha di surga dengan menyerahkan diri kepada Allah dan rakhmatNya
Hal ini dapat di capai dengan mengikuti 5 rukun Islam
1. Shahada: Iman kepada Allah dan Nabi Muhammad
2. Salat: Menunaikan Solat 5 rakaat
3. Zakat
4. Shawm: Puasa
5. Haji ke Mekah
1.4 Pendekatan Filosofis terhadap Agama
1. Atheistik- Semua agama salah, Tuhan/ kebenaran tertinggi tidak ada
2. Agnostik-Tuhan/ Kebenaran tertinggi ada namun tidak ada cara mengetahui mana agama yang klaimnya paling benar, oleh karenanya cara terbaik adalah menjadi agnostik
3. Relativitas Agama- Semua agama dan Tuhan bisa jadi benar bagi pemeluknya, namun secara objektif menentukan kebenaran Agama dan Tuhan bagi semua orang tidak bisa dilakukan.
4. Pluralitas Agama -Semua agama dan Tuhan benar dan mengajarkan hal yang sama, hanya saja agama berbeda dalam menyajikan perpektif kebenaran yang tertinggi.
5. Inklusifitas Agama- Hanya satu agama dan Tugan yang benar, namun agama yang lain memiliki unsur kebenaran, tapi masih mungkin memasuki surga/ nirvana/ mokhsa lewat jalur agama yang lain.
6. Ekslusifitas Agama- Hanya satu agama dan Tuhan yang benar, yang lain salah dan tidak akan membawa salvation/ surga.
Setiap pendekatan mengharuskan kita memahami argumentasi argumentasi dan konflik filosofis terkait, paling tidak jika kita merasa resah kita harus memiliki jawaban terhadap hal tersebut. Saya menganggap kegelisahan beragama mrupakan fase wajar dan penting, dan saya beruntung menemukan jawaban yang saya cari lewat filsafat agama. Pada akhirnya, Agama adalah pilihan, dan sebagian besar dari Agama adalah iman. Beragama berarti mengalahkan konsiderasi rasional diri saya, namun tidak ada kelebihan dari memegang rasionalitas secara berlebihan karena sebagian besar kehidupan kita juga sebenarnya hasil dari irrasionalitas subconscious dan kontrol biochemistry aktifitas otak. Setidaknya saat ini, saya masih memandang Agama dan Tuhan terutama masih di perlukan oleh saya sebagai pola pikir etika dan tata nilai pribadi saya.
1. Konsepsi Pribadi tentang Agama
Awalnya, skpetisisme saya mengenai agama lahir dari keraguan saya tentang validitas dogma agama itu sendiri. Apakah Tuhan benar benar menurunkan burung ababil yang mengambil batu dari neraka untuk menghancurkan tentara gajah seperti di tuturkan Al-Quran? Apakah Tuhan secara literal benar benar menampakan diri ke Musa kira kira 2000 tahun yang lalu? Apakah Tuhan benar benar ada?
Namun, ketika kita pertimbangan, keraguan saya tidak lahir secara objektif melainkan lahir karena saya tidak puas terhadap jawaban yang mengarah ke "Ada hal hal yang kita tidak mengerti, oleh karenanya agama itu aspeknya keimanan bukan rasionalitas.".
Pernyataan Quranic/ Biblikal yang mengatakan bahwa Isa lahir dari seorang perawan bukan cuma sekedar menurutkan keluarbiasaan, tapi lebih lagi klaim biologis yang sebenarnya bisa saja kita coba jawab secara rasional. Apakah DNA Isa mengandung kromosom Y? Munkinkah klaim serupa terjadi kembali?
Klaim agama seringkali kita perlakukan seperti kebenaran absolut di mana kita tidak mempertanyakan baik validitas maupun konsekuensi klaim atau dogma tersebut.
Namun juga banyak bukti bahwa Agama memberikan banyak sekali ketenangan dan arti bagi pemeluknya. Ini membuat saya berfikir, bahwa Agama lebih bersifat personal ketimbang sebagai suatu gerakan. Seringkali ketika Agama di buat menjadi alat kepentingan maka ia berubah menjadi alat utilitarian yang berkebalikan dengan pesan moral yang Agama itu sendiri coba ajarkan.
Oleh karenanya Agama lebih seperti sekumpulan pola pikir dan praktek ritual yang bisa saja merepresentasikan banyak sekali doktrin dan ajaran keimanan. Dalam sejarah manusia, agama muncul dan menghilang. Dalam sejarah itu Agama memberikan pencerahan dan makna hidup kepada manusia, kadang juga meberikan kebebasan atau jawaban terhadap hal hal yang kita manusia tidak mengerti. Agama yang lain memberikan pelajaran kesengsaraan. Agama Abrahamic seperti Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki banyak sekali persamaan sejarah. Mempertanyakan mana yang benar merupakan sebuah sikap yang natural, tapi klaim kebenaran ekslusif itu pula yang menjadikan tahun tahun peradaban manusia setelah kehadiran agama itu diwarnai dengan pertumpahan darah. Mulai dari Eksodus, Pensaliban Yesus, Perang Salib atau umumnya konflik memperebutkan Yerusalem. Sejarah membuktikan bahwa agama bisa di gunakan sebagai alat politik yang kotor hanya saja kita terlalu beriman untuk benar benar menyadari hal itu.
1.1 Signifikansi Agama
Sigmund Freud menganggap agama seperti penyakit mental (neurosis) pada anak anak. Dengan pemahaman tersebut, dunia kita penuh dengan 5 milyar pesakitan yang mempercayai Kristianitas (Katolik Roma, Protestan, Orthodoks)-lebih dari 2 milyar pemeluk, Islam (Sunni, Syiah, Wahabi, Liberal)-lebih dari 1 milyar pemeluk, Hindu-sekitar 1 milyar pemeluk, Budha (Theradava dan Mahayana)-lebih dari 350 juta pemeluk, sekitar 350 pengikut tradisi Cina seperti Confucianism dan Taoism, sekitar 300 juta pengikut Agama tradisional seperti Animisme, Shamanisme, dll, sekitar 25 juta Sikhs, 14 juta Yahudi, 7 juta Baha'i, 4 juta Jainis, dst.
1.2 Timeline Penting Abrahamaic Religions
Sebelum Masehi
1300 BCE - Musa dan Ten Commandement
1000 BCE- Kerajaan Israel oleh David/ Sulaiman (Solomon)
Setelah Masehi
4-30 - Yesus dari Nazareth
10-16 - Rasul Perjanjian Baru seperti Paul
30 - Penyaliban Yesus
50-100 -Penyusunan Bible
70 -Kuil di Yerusalem di hancurkan oleh pasukan Roman
325 -Christian Council of Nicaea (fokus pada Trinitas)
354-430 -Bapak Gereja Kristen St. Augustine
410 - Kejatuhan Roman
480-524 - Filsuf Kristen Roman Boethius
Medieval World
570-632 - Kelahiran Islam oleh Nabi Muhammad
800-866 - Filsuf Islam Al Kindi
870-950 - Filsuf Al-Farabi
980-1037 - Filsuf Islam Ibnu Sina (Avicenna)
1058-1111 - Filsuf Islam Al-Ghazali
1126-1198 - Filsuf Islam Ibnu Rushdi (Averroes)
1135-1204 - Filsuf Yahudi Moses Maimonides
1225-1274 - Filsuf Kristen St. Thomas Aquinas
1483-1546 - Reformis Protestan Martin Luther
1.3 Persamaan Tujuan Soteriologis Agama
Tujuan Soteriological (Salvation) beberapa tradisi Agama
A. Hiduisme
Tujuan soteriologis tertinggi adalah mokhsa yaitu keluar dari siklus hidup dan mati (samsara/ reikarnasi) dan menjadi bagian dari Brahman. Brahman adalah manifestasi realitas paling suci/ Tuhan. Manusia mencapai tugasnya saat menjadi atman (Atman berarti Brahman).
Ada tiga jalur (marga) menuju Brahman,
1. Jalur Ilmu (jnanamarga)
2. Jalur Kebaktian (bhaktimarga)
3. Jalur Aksi (karmamarga)
B. Buddhisme - Siddhartha "The Buddha"
Tujuan soteriologis tertinggi adalah nirvana, bebas dari siklus samsara, dan hilangnya segala nafsu, keinginan, dan penderitaan. Pencapaian manusia ketika mencapai kondisi anatman.
Hal ini di capai dengan pemahaman empat kebenaran utama yaitu:
1. dukkha: semua keadaan adalah penderitaan
2. trishna: semua kesengsaraan datang dari keinginan
3. nirvana: semua kesengsaraan bisa berakhir
4. cara mengakhiri kesengsaraan di dapat dengan melaksanakan astingika-marga, 8 jalur utama:
aspirasi yang benar, pandangan yang benar, ucapan yang benar, kelakuan yang benar, kehidupan yang benar, usaha yang benar, pikiran yang benar, konsentrasi/ meditasi yang benar.
C. Yahudi
Tujuan soteriologis tertinggi adalah di ridhai oleh Yahweh, di dunia maupun di akhirat.
Hal ini dapat di capai dengan memenuhi perintah ketuhanan (mitzvot) dengan mengikuti amalan (sim chat Torah / "the Joy of Torah")
1. Menaati Sabbath
2. Peribadatan Rutin di Synagogue
3. Merayakan festival tahunan
4. Mematuhi dengan ketat Aturan Yahudi
D. Kristianitas
Tujuan Soteriologis tertinggi adalah transformasi spiritual dan menghabiskan waktu bersama Bapak di Kerajaan Surga.
Hal ini ddapat di capai dengan
1. Ridha Bapak (charis) dalam bentuk penebusan oleh Yesus (hilasterion) terhadap dosa manusia yang lalu, dan akan datang (hamartion).
2. Mendapat ridha melalui iman (pistis) terhadap Yesus dan sacraments
3. Mengikuti hukum (nomos) Bapak karena rasa syukur akan ridhaNya
E. Islam
Tujuan Soteriologis tertinggi adalah ridha di surga dengan menyerahkan diri kepada Allah dan rakhmatNya
Hal ini dapat di capai dengan mengikuti 5 rukun Islam
1. Shahada: Iman kepada Allah dan Nabi Muhammad
2. Salat: Menunaikan Solat 5 rakaat
3. Zakat
4. Shawm: Puasa
5. Haji ke Mekah
1.4 Pendekatan Filosofis terhadap Agama
1. Atheistik- Semua agama salah, Tuhan/ kebenaran tertinggi tidak ada
2. Agnostik-Tuhan/ Kebenaran tertinggi ada namun tidak ada cara mengetahui mana agama yang klaimnya paling benar, oleh karenanya cara terbaik adalah menjadi agnostik
3. Relativitas Agama- Semua agama dan Tuhan bisa jadi benar bagi pemeluknya, namun secara objektif menentukan kebenaran Agama dan Tuhan bagi semua orang tidak bisa dilakukan.
4. Pluralitas Agama -Semua agama dan Tuhan benar dan mengajarkan hal yang sama, hanya saja agama berbeda dalam menyajikan perpektif kebenaran yang tertinggi.
5. Inklusifitas Agama- Hanya satu agama dan Tugan yang benar, namun agama yang lain memiliki unsur kebenaran, tapi masih mungkin memasuki surga/ nirvana/ mokhsa lewat jalur agama yang lain.
6. Ekslusifitas Agama- Hanya satu agama dan Tuhan yang benar, yang lain salah dan tidak akan membawa salvation/ surga.
Setiap pendekatan mengharuskan kita memahami argumentasi argumentasi dan konflik filosofis terkait, paling tidak jika kita merasa resah kita harus memiliki jawaban terhadap hal tersebut. Saya menganggap kegelisahan beragama mrupakan fase wajar dan penting, dan saya beruntung menemukan jawaban yang saya cari lewat filsafat agama. Pada akhirnya, Agama adalah pilihan, dan sebagian besar dari Agama adalah iman. Beragama berarti mengalahkan konsiderasi rasional diri saya, namun tidak ada kelebihan dari memegang rasionalitas secara berlebihan karena sebagian besar kehidupan kita juga sebenarnya hasil dari irrasionalitas subconscious dan kontrol biochemistry aktifitas otak. Setidaknya saat ini, saya masih memandang Agama dan Tuhan terutama masih di perlukan oleh saya sebagai pola pikir etika dan tata nilai pribadi saya.
Comments
Post a Comment
kindly share your thoughts