Perjalanan Memahami Politik Setelah Pemilu

Kita perlu memahami bahwa politik adalah salah satu kekuatan yang dapat mengubah jalur hidup kita. Dalam memahami politik kita perlu, selain waktu dan energi, informasi yang dapat kita pegang keabsahannya. Pada pemilihan umum 2019 yang sangat membelah bangsa, kita melihat fenomena bahwa teknologi informasi, alih-alih digunakan secara bijak, malah menjadi sarang persebaran berita palsu.

Pemilu sudah usai, lalu apa?

Dalam tulisan ini saya mengajak kawan-kawan sekalian untuk turut serta dalam perjalan memahami politik. Tulisan ini tidak dibuat untuk yang berpendidikan di bidang politik saja, melainkan bagi setiap warga negara Indonesia. Harapannya kita semua dapat menemukan celah kontribusi diri kita masing-masing. Tulisan ini juga sebagai titik inkubasi pribadi untuk menciptakan sesuatu yang produktif seperti halnya situs PilahPilihPilpres.

Saya mengusulkan dua (2) pendekatan top-down dalam memahami politik Indonesia.


  1. Memahami secara teoretis, sistem perpolitikan kita serta semua hal terkait: kepentingan dan isu, insentif, kebijakan dan dampaknya.
  2. Memahami secara lebih nyata, keadaan di lapangan di dua tingkat: sistem politik yang dihadapi di lapangan (birokrasi, negosiasi politik) dan juga pembuatan kebijakan.


Mengapa top-down? karena dengan menggunakan top-down, kita akan menjadi lebih sistematis dan menyeluruh dalam mengevaluasi isu-isu dan tingkat prioritas penting yang mungkin kita tidak pertimbangkan jika kita memulai dari bottom-up, yaitu memulai dari apa yang kita anggap penting, tanpa mempertimbangkan cara berfikir sistem.

Pendekatan ini, jika diguanakan sebagai framework, masih akan menghasilkan turunan yang berbeda-beda sesuai dengan cara kita memandang realita yang ada. Misalkan saja, jika kita memandang driving force utama di Indonesia adalah kepentingan ekonomi, maka porsi kita menurunkan dampak dari kepentingan tersebut akan jauh lebih pekat ketimbang kepentingan lain misalkan: hak minoritas.

Memang contoh yang saya gunakan sangat ekstrim, tapi hal tersebut memberikan ilustrasi bahwa kemampuan membaca realita yang dipengaruhi ideologi dan school of thoughts penurunnya akan sangat mempengaruhi penurunan pendekatan metode ini. Tapi saya kira ini menjadi titik awal bagi kita untuk menyusuri sistem politik di negara kita sendiri.

Di follow up selanjutnya saya akan coba memberikan contoh penurunan, dan juga membahas bagaimana mengembangkan pendekatan ini agar bisa didukung banyak orang sehingga menjadi salah satu jalur informasi yang dapat dipercaya.

Comments

Popular posts from this blog

how to stay sane (Repost from September 2012)

Letting Go