Aksi Masa Bela Islam: Isu Multi-Dimensi
Menelaah Sekaligus Menyoal Aksi Masa Bela Islam di Indonesia
Aksi bela Islam merespon Ahok menarik diperhatikan, terutama aksi pada tanggal 4 November dan 2 Desember. Aksi ini menyedot banyak perhatian masyarakat akar rumput Indonesia. Eskalasi reaksi atas satu cuplikan perkataan Ahok dari sebatas kemarahan di media sosial hingga aksi yang diklaim diikuti oleh jutaan orang memberikan reaksi beragam dikalangan masyarakat.
Ada ketakutan yang sangat kental karena sentimen anti etnis tiongkok meningkat bersamaan dengan dipupuknya egoisme kelompok mayoritas. Ada juga pembuktian bahwa aksi masa yang damai dapat dilakukan seperti yang terjadi pada 2 Desember ini. Ada skeptisisme yang muncul bahwa pergerakan ini ditunggangi dan didanai aktor dengan kepentingan politik. Untaian reaksi yang tidak berkesudahan dan hampir pasti tidak akan terangkum lengkap di satu tulisan.
Benang merah yang jelas terjadi adalah bahwa terjadi polarisasi isu sehingga kebanyakan informasi diberikan dari satu sudut pandang kelompok. Sayangnya, ruang gema di sekat maya begitu alot sehingga kritik-kritik membangun tidak tersampaikan dengan baik. Tulisan ini sifatnya hanya menyoal pandangan-pandangan yang ada dan hendak memberikan sudut yang kontras atas padangan tersebut.
Apa makna aksi bela Islam bagi muslim Indonesia?
Narasi utama yang mendasari jutaan orang turun ke jalan arteri di Jakarta adalah perasaan diinjak-injak karena ucapan tak pantas yang keluar dari seorang figur pemimpin. Persoalannya, pantaskah reaksi sesaat direspon dengan mobilisasi masa yang menurut estimasi kelompok pendemo di tanggal 2 Desember melibatkan lebih dari 7 juta jiwa. 7 juta jiwa turun ke jalan menuntut 1 orang agar ditaruh di balik jeruji besi. Proporsionalkah?
Perlu dicatat bahwa Ahok sudah memohon pengampunan dan mengakui kealfaannya pada 10 Oktober silam. Namun, banyak umat muslim merasa bahwa “penghinaan” Ahok atas ayat suci Al-Quran sudah terlampau kelewat batas. Saat ayat suci ternodai, maka reaksi yang mereka rasa pantas adalah menunjukan kemarahan. Kemarahan karena bagaimana mungkin, seorang pemimpin bisa dengan santai menghina ayat suci kaum mayoritas. Persoalannya sudah menjelma menjadi persoalan pertaruhan harga diri. Mayoritas merasa dikucilkan sehingga dirasa perlu menunjukan eksitensinya kembali lewat salah satu aksi masa terbesar yang pernah terjadi di sejarah Indonesia kontemporer.
Mayoritas yang merasa geramannya tidak digubris di sosial media – justru mendapatkan perlawanan argumentasi dari kalangan Teman Ahok – berkesimpulan bahwa harus ada yang disalahkan. Di mata mereka sudah jelas bahwa mayoritas Islam dilecehkan dan tidak ada yang membela. Harus ada tanda bukti bahwa mayoritas masih bertaji – bukti itu diwujudkan di rangkaian aksi masa bela agama yang berhulu di media sosial dengan tuntutan dipenjaranya Ahok. Aksi unjuk gigi tersebut dipandang sebagai pengejawantahan “jihad” (perjuangan atau struggle) agar kaum mayoritas dipandang dengan penuh binar kehormatan. Kehormatan yang sudah sepantasnya dirasakan kaum mayoritas.
Narasi di atas sengaja saya dramatisasi agar esensi besar lebih mudah terasa. Ada satu hal yang perlu saya garis bawahi, bahwa salah satu hal yang menarik tentang kondisi psikologis umat Islam Indonesia saat ini adalah penekanan mereka akan perasaan terinjak yang begitu nyata dan mendalam. Ironi dari kejadian ini tentu jelas, jika kaum mayoritas benar-benar terinjak akankah ada kemungkinan barang sebesar biji kecambahpun bahwa 7 juta manusia turun ke jalan di hari kerja terlebih lewat agitasi dan koordinasi maya? Lalu mengapa bisa-bisanya kalangan yang jelas-jelas raksasa merasa kerdil sehingga tertantang untuk menunjukan tajinya? Begitulah kira-kira potret psikologi masa umat Islam hari ini: mayoritas yang termarginalisasi.
Penjelasan amatiran yang akan saya utarakan ada tiga: (i) konsep “ummat”, (ii) kebobrokan diskusi internal intelektual muslim, dan (iii) keadilan tebang pilih negara.
Ummat
Agama Islam dianut lebih dari 1 milyar manusia di seluruh dunia. 14 abad silam, tepatnya tahun 622 masehi, Nabi terpaksa diusir keluar Mekah karena opresi kaum elit Kuraish. Momen keterpaksaan tersebut dikenal sebagai “Hijrah” dan merupakan titik kulminasi kedzaliman masyarakat elit Kuraish yang tidak sudi Tuhan-Tuhannya dihinakan oleh seorang bernama Muhammad. Sahabat-sahabat terdekat Muhammad saat itu disiksa diluar kewajaran – Bilal sang budak misalnya, ditimpa batu besar di tengah terik tanah tandus Mekah sebelum dibebaskan oleh seorang muslim, banyak dari mereka yang meninggal akibat siksaan tersebut. Momen tersebut dijadikan patokan awal tahun Hijriyah karena signifikansinya dalam menjelaskan sejarah agama ini.
Islam adalah agama kaum terjajah dan karenanya konsep solidaritas menjadi pilar agama ini agar bisa bertahan menghadapi musuh-musuh bebuyutannya – seperti para elit Kuraish. “Jika satu muslim berdarah”, ucap Nabi “maka seluruh ummat merasakan sakitnya”. Konsep solidaritas berasakan kepercayaan ilahiyah ini sangat progresif di masanya karena mentransedensi konsep solidaritas masyarakat kesukuan di tanah Arab. Alhasil, mendadak budak terangkat posisinya sejajar dengan para pedagang sukses sekalipun – yang membedakan hanyalah keimanan yang merupakan hak prerogatif Tuhan dalam penilaiannya. Islam sekali lagi dibangun oleh para kaum tergusur dan mental tersebut mendarah-daging dalam konsep solidaritas ummat (persaudaraan kaum muslim).
Pertanyaan dalam konteks unjuk rasa, lalu apa hubungannya konsep ummat dengan perkataan Ahok yang diklaim menghina ayat suci (dan bukan umat Islam)? Apakah ayat suci perlu dibela? Begini, saya setuju bahwa keabstrakan kesucian ayat suci memungkinkan penjelasan bahwa Tuhan dan Agama secara konsep tidak perlu dibela – di tataran ini sebaiknya di bahas pada sub-poin peran ulama. Namun, secara praktis konsep agama sebaiknya dipandang sebagai bagian integral dari penganutnya. Sehingga pada tataran ini, pemisahan hal tersebut menjadi tidak bermakna banyak - yang pasti banyak orang merasa tersakiti. Saat agama terhina, maka individu-lah yang tersakiti dan rasa sakit psiko-psikis tersebut senyata rasa sakit fisiologis (terlepas seberapapun subjektifnya).
Disinilah kita dapat memastikan bahwa bagi kebanyakan masyarakat muslim Indonesia, agama bukanlah sesuatu yang bersumber dari hasil berfikir independen namun dari pola hidup bertahun-tahun mendefinisikan dirinya tanpa dipertanyakan (sami’na wa ato’na) di dalam rangka pikir keagamaan dan produk dari psikologi kelompok. Agama sudah melebur dari tataran konsep hingga menjadi ekuivalen dengan perasaan-perasaan diri si penganut. Di sinilah bahaya bias menjadi teramplifikasi ke level yang mengerikan karena terjadinya dua hal: (i) kondisi jiwa umat dipupuk lewat propaganda dan konspirasi dan (ii) rasionalitas dikesampingkan.
Sebelumnya agar jelas biar saya ulang kembali, bahwa saya berhipotesis bahwa konsep umat sangat mempengaruhi mentalitas kelompok muslim Indonesia. Umat ini dipahami secara luas dan fleksibel, setiap kaum muslim merasa dirinya merepresentasikan umat dan penyerangan terhadap konsep keagamaannya dipandang sebagai penyerangan ke diri pribadinya. Saat batas antara konsep dan pribadi mengabur, bahaya bias teramplifikasi.
Pertama, penting bagi kita untuk memahami bahwa saat ini umat Islam merasa sebagai kaum yang paling tertindas. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana umat Islam saat ini memandang mereka secara kolektif. Terlampau banyak insiden yang membuat mentalitas umat Islam merasa terjajah. Runtuhnya khilafah paska perang dunia ke-2, insiden genosida muslim Bosnia tahun 1993, penjajahan Palestina, represi agama selama orde baru, sekularisasi Turki, peperangan di Afghanistan, Iraq, dan Syria, kudeta militer rezim Islamis di Mesir, hingga yang terbaru pembantaian muslim Rohingya.
Dari kaca mata pengamat modern tentu absurd jika kejadian tersebut dijadikan basis bahwa umat Islam ditekan dalam upaya konspiratif. Misalkan, isu Palestina merupakan isu geo-politik yang kompleks. Di awal sejarah berdirinya negara Israel, aktivis zionis justru bermusuhan dengan Imperial Inggris hingga terjadi insiden pemboman kedutaan Inggris dalam rangka mempersingkat proses pemindahan otoritas wilayah Palestina. Secara hukum adat peperangan saat itu, pencaplokan wilayah Palestina oleh sekutu hanya terjadi karena Khilafah Otoman kalah perang. Obama saat menjabat presiden menunjukan posisi yang cukup antagonis terhadap PM Israel Netanyahu karena Netanyahu menyerang upaya deskalasi tensi Amerika dengan Iran yang diusahakan Obama.Tentu hal tersebut menjawab bahwa isu yang ada murni isu politik di level internasional yang kompleks. Bukan teori konspirasi untuk menghancurkan agama Islam.
Memang perlu diakui bahwa pandangan barat tentang Islam saat ini sangat buruk. Islamophobia sangat kental terjadi di negara-negara barat seperti Perancis. Namun penjelasan bahwa hal tersebut terjadi karena meningkatnya posisi kekuatan alt-right (sayap kanan) dan juga karena ketidakpahaman akut tentang esensi agama Islam. Di saat yang sama juga dapat dilihat bahwa upaya reparasi wajah agama Islam sangatlah sulit karena diskusi internal di dalam umat sendiri sangat lemah dan didominasi narasi yang tidak progresif.
Di mata kebanyakan umat Islam, kemunduran umat Islam bukanlah akibat kondisi internal umat tapi karena konspirasi pihak eksternal. Bertahun-tahun media Islam menyebarkan penjelasan editorial yang sifatnya propaganda. Dalam meningkatkan kepekaan umat terhadap kondisi di Palestina, gambar bayi meninggal dan puluhan badan berdarah selalu menjadi kover utama. Rasa iba yang dibangun dari foto-foto berdarahlah yang membangun pemahaman kaum muslimin terhadap isu geo-politik yang tersebut beberapa sebelumnya. Gambar-gambar tersebut sudah sangat menyatu di benak kaum muslim sehingga tidak aneh jika sebagai satu kolektif merasa terkerdilkan.
Mungkin garis tengahnya adalah seperti ini, memang banyak terdokumentasi kekejian atas kaum muslim saya tidak menafikannya– misalkan anak-anak yang terbunuh dalam agresi Israel di Palestina, Auu San Suu Kyi yang bisu ditengah opresi atas muslim Rohingya, dan pembantaian muslim Bosnia. Penggunaan gambar yang eksplisit tidak mengurangi dalamnya rasa sakit kita bersama melihat nyawa kaum tidak berdosa hilang sia-sia. Penggunaan gambar berdarah tidak sedikitpun mengurangi kekejian atau menjustifikasi kekejian luar biasa tersebut terhadap umat Islam yang tidak berdosa .
Namun yang jadi persoalan, penggunaan gambar beserta penjelasan propagandis memberikan pengertian di benak masyarakat muslim yang jauh dari kenyataan (meskipun realita objektif itu sendiri tidak ada). Contohnya, banyak dari mereka yang yakin bahwa satu-satunya solusi bagi kebobrokan umat adalah saat tibanya akhir zaman. Dimana, di akhir zaman akan terjadi perang akhir zaman – seperti yang tertera di hadist-hadist. Hal itu tentu cara pikir yang jauh berbeda dengan upaya banyak diplomat mencari celah negosiasi antara Israel-Palestina, hingga akhir-akhir ini kesuksesan diplomatis tercapai dalam bentuk bendera Palestina sukses berkibar di markas PBB dan capaian penting lainnya.
Kesimpulannya, doktrin propaganda dan teori konspirasi menjadikan seolah umat ini hidup di realita yang begitu gelap dan mengerikan. Di sinilah perasaan bahwa mereka terancam menjadi sangat tinggi. Mereka benar-benar yakin mereka terposisikan sebagai kaum tertindas tanpa kemampuan melawan dan merubah sistem. Di sini mereka hidup di realitas yang berbeda dari masyarakat yang memandang persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih sekuler.
Ahok hanyalah pelatuk atau momen tepat yang membuat keresahan umat akhirnya meledak lewat bentuk unjuk rasa. Harus diperhatikan bagaimana unjuk rasa ini akhirnya mempengaruhi psikologi masa umat Islam Indonesia nantinya. Apakah aksi Jumat kemarin akan membuat masyarakat muslim menjadi lebih tenang karena kekhawatiran yang dipupuk oleh propaganda berkurang? Akankah ego yang terpuaskan ini menjadikan kemarahan yang biasa kita lihat dari kelompok tertentu hilang? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Saya tidak akan menafikan bahwa mobilisasi masa yang menurut satu metode berjumlah 500.000 - 700.000 masa secara rapih dan tanpa insiden besar sangatlah luar biasa. Saya ingin juga menambahkan bahwa aksi tandingan pada tanggal 4 Desember tidak hanya memperkeruh air yang sudah kotor tetapi membuat mengecewakan dari perspektif kedewasaan berpolitik bangsa ini. Semakin marak terjadi perang berita palsu dan nyinyiran dari kedua sisipun semakin parah. Meskipun beberapa juga menghibur: politik uang dengan tag "demo dibayar", kebersihan dan kondisi taman paska demo, kelakuan aneh anggota demo, bias media menjari sorotan yang pada akhirnya sebenarnya merugikan kita semua secara kolektif. Ibarat melihat anak kecil berkelahi, setelah babak belur lalu melihat mereka saling cibir. Tidak ada pemenang sejati yang punya jiwa ksatria melihat "gambaran besar" bagi bangsa ini. Semuanya lusuh, kotor, dan meringih sakit. Inikah harga demokrasi? Pertaruhan Gubernur kota dengan GDP terbesar di Indonesia harus dibayar lewat polarisasi bangsa tanya jelas apakah tujuan demokrasi itu sendiri sudah tercapai bagi bangsa ini?
Sebelum menutup poin pertama, saya ingin mebahas ironi dari penjelasan pertama ini. Ironi pertama mengenai mentalitas korban umat Islam mayoritas adalah betapa selektifnya cara berfikir ini. Umat Islam Indonesia merasakan privilege yang luar biasa. Memang, selama zaman orba mereka direpresi. Namun, masa orba sudah berakhir. Saat ini ummat Islam bebas berekspresi. Mental terdzalimi yang dirasa begitu nyata akibat propaganda serius menyebabkan banyak golongan di dalam ummat Islam sendiri menjadi tidak bisa merasakan kedzaliman yang menimpa golongan lainnya.
Misalkan, masyarakat etnis cina yang merasa sangat terancam melihat kaum bersorban putih membakar atribut etnis cina sebagai protes ke Ahok. Masih segar diingatan mereka insiden 1998 dimana banyak rumah warga etnis dibakar, gadisnya disalahi kehormatannya, dan orang tua yang tewas terbunuh karena kelompok yang lepas kendali bak kesetanan. Di mata kaum etnis, ritual unjuk gigi mayoritas membuka lembaran perih yang mengingatkan posisi mereka sebagai minoritas yang harus selalu tunduk terhadap suara mayoritas.
Memang, tujuan utama aksi masa awalnya bukanlah untuk menakuti kaum etnis. Apalagi ratus ribu manusia tidak bisa digeneralisir dengan satu sapuan kuas saja. Tetapi secara de facto pada praktiknya, beberapa pihak (oknum) penyelenggara masih saja menggunakan isu etnis sebagai bahan agitasi sehingga banyak masa yang terbawa SARA. Apalagi dengan jumlah peserta yang hingga jutaan (klaimnya) tentu akan banyak yang terbawa isu buruk ini. Hingga tahap ini kita menciptakan mental terjajah bagi seluruh kaum minoritas yang merasa inferior dibandingkan kaum mayoritas. Timbulah kondisi sangat aneh dimana seluruh elemen masyarakat yang terlibat (ummat Islam, masyarakat etnis, bahkan pendukung presiden) merasa bahwa mereka-lah yang paling terjajah.
Bahayanya lagi posisi merasa terjajah itu membuat mereka tidak sensitif terhadap penderitaan golongan lain yang lebih terjajah, contoh: kelompok aktivis papua barat, wanita-wanita yang disiuli oleh oknum masa aksi bela Islam, dan kaum etnis yang terancam keselamatannya akrena isu yang diusung menyinggung SARA. Harusnya, bukannya kita memainkan nada siapa yang paling sengsara tetapi mencari jalan keluar menyelesaikan isu keadilan. Rasa terjajah hendaknya dirasakan secara objektif dan secara proporsional. Namun untuk masalah menjunjung keadilan harus dilakukan semegah-megahnya.
Bayangkan jika mobilisasi masa dilakukann saat ketidakadilan negara terjadi – penggusuran, kekerasan di konflik agraris, memperjuangkan kaum miskin dan hak dasar kaum termarginalkan.
Bayangkan betapa indah jika standar keadilan yang diusung dan bukan agenda memompa harga diri satu golongan tertentu. Apakah mungkin ditarik sejauh ini? Jawabannya ada di peran ulama dalam menggiring kedewasaan berpikir umat Islam. Semoga saya bisa melanjutkannya di lain waktu karena panjang tulisan ini sudah cukup panjang. Terimakasih bagi yang mau membaca sampai akhir. Semoga mendapatkan beberapa manfaat.
Maksudnya mengislamkan demokrasi atau mendemokrasikan islam?
ReplyDeletepertanyaan menarik sekali, hemat saya sih gini mas:
Deletedemokrasi jelas tujuannya tidak pernah untuk menonjolkan satu agama pun. Justru kelemahan demokrasi lah dimana mayoritas bisa dzalim bagi minoritas.
Isu ini sangat filosofis sekali mas, bertanya tentang apa harusnya tujuan agama ini di konteks modern. Bagaimana makna rahmatan lil alamin? Apa cara mencapainya?
Rasanya tidak ada diskusi semacam ini di kalangan ulama kita karena jika berbeda pendapat sedikit bisa dihujat dan audiensnya alergi tentang penjelasan kompleks. Ini berbeda jauh dari fenomena ulama zaman pertengahan seperti al-Biruni, al-Amiri, Ibn Hazm, dan al-Shahrastani. Atau mungkin kisah perdebatan ulama Ibnu Rushdi dengan bukunya Tahafut al Tahafut dengan Al-Ghazali dengan bukunya Tahafut al Falasifa. Pertanyaan seperti yang mas ajukan harus dijawab oleh usaha serius ulama-ulama kita mencari jati diri Islam agar menjadi jawaban persoalan dunia modern.
Sekaligus menjawab, mendemokrasikan Islam dari aspek apa? dalam Islam kebenaran merupakan pertanyaan serius dan metode mencari kebenaran banyak macamnya. Tapi yang pasti, apabila mayoritas menyuarakan satu jawaban bukan berarti itu kebenaran (prinsip yang berbeda dari demokrasi). Dalam Islam, kebenaran itu terlepas dari persepsi mayoritas. Metodenya? itu beragam dan terus berkembang. Tapi kita selalu tergantung kepada ulama-ulama kita. Oleh karenanya menghidupkan kembali budaya akademis "Iqra" merupakan agenda yang sangat penting.
Simpelnya, dikotomis yang Anda ajukan menarik dibahas satu-satunya tapi saya melihat dua opsi itu bukanlah pilihan yang sebenarnya. Dan juga saya tidak memaksudkan keduanya dalam opini saya. Poin saya sebatas: penting bagi kita menghidupkan diskusi internal dan kritisisme mandiri agar kembali menarik, kembali menyadarkan kita pentingnya budaya "Iqra" dan rasionalitas yang dulu sempat jaya di peradaban Islam pertengahan.
Tujuannya, agar agama benar-benar jadi jawaban persoalan hidup kita bukan ditunggangi politik praktis yang marak terjadi dewasa ini.
Maaf jadi panjang. Wallahualam.