Posts

Perjalanan Memahami Politik Setelah Pemilu

Kita perlu memahami bahwa politik adalah salah satu kekuatan yang dapat mengubah jalur hidup kita. Dalam memahami politik kita perlu, selain waktu dan energi, informasi yang dapat kita pegang keabsahannya. Pada pemilihan umum 2019 yang sangat membelah bangsa, kita melihat fenomena bahwa teknologi informasi, alih-alih digunakan secara bijak, malah menjadi sarang persebaran berita palsu. Pemilu sudah usai, lalu apa? Dalam tulisan ini saya mengajak kawan-kawan sekalian untuk turut serta dalam perjalan memahami politik. Tulisan ini tidak dibuat untuk yang berpendidikan di bidang politik saja, melainkan bagi setiap warga negara Indonesia. Harapannya kita semua dapat menemukan celah kontribusi diri kita masing-masing. Tulisan ini juga sebagai titik inkubasi pribadi untuk menciptakan sesuatu yang produktif seperti halnya situs PilahPilihPilpres. Saya mengusulkan dua (2) pendekatan top-down dalam memahami politik Indonesia. Memahami secara teoretis, sistem perpolitikan kita serta sem...

Letting Go

Image
Fear can be a debilitating force, I have unwittingly stopped myself from writing largely due out of fear of making bad writing. I have accepted the fact that I may not be able to craft the best piece out here, but rather to let go of an increasingly disturbing noise existing inside my head. Noise of being misunderstood. I will let go, let go of the need to make a structured thematic writing. Let go of the desire to impulsively check the grammar and the punctuation. Let go of the instinct to judge, how badly written this blog is. Instead, I will focus on letting go what must be let go. All the thoughts and ideas, that have been lurking inside my head for too long. First of all, let be clear that I am inherently a quite secluded person, initially. I got busy with what's going on inside my mind. I got enchanted by ideas. Time flew by, whenever my mind got preoccupied with the hidden wonder of human thoughts. From the outside, I am very weird. I do what I want. I understand, this w...

What Life is Like Without Education?

There is no better way to celebrate the end of educational endeavor other than writing about it myself. Pondering how has my 20-odd years of accumulated education supposed to empower myself. This is among my favorite activities: pondering the what-ifs.  To truly realize the great blessing that comes with education require us to imagine the exact opposite. What should life be like without education? We often forget our privileges because we do not know and consciously ponder how life will be like without them. We're taking our reality for granted, with reasonably acceptable reason: because we don't think life would drastically change in our immediate future. Of course, there are exception - French monarchy in 1789-99 did not think that they would face guillotine ever until they experienced revolution.  Because I am born male in patriarchal society, I want to imagine how life would be like, had my reproduction gene been an XX rather than an XY. Had we been born as a...

Menyoal Aksi Bela Islam: Peran Ulama Membangun Diskusi Internal

Dalam tulisan ringan ini saya tidak bermaksud menghujat ulama, tidak. Apalagi menganggap bahwa saya memiliki jawaban yang lebih baik dari yang ulama fikirkan. Saya hanya ingin menuturkan observasi subjektif saya mengenai peran ulama yang relevan dibahas dirangkaian orkestra unjuk rasa pada aksi bela Islam. Menurut pandangan saya yang terbatas, salah satu elemen mengapa ummat Islam merasa perlu menunjukan tajinya lewat aksi masa adalah karena agitasi yang dilakukan oleh para ulama. MUI merilis pernyataan yang mendukung bahwa pernyataan Ahok menghina ulama dan ummat Islam. Akusasi sangat serius bahkan menurut beberapa berita, MUI mengklaim pernyataan Ahok sudah memenuhi unsur pidana. MUI tidak hanya menyatakan bahwa ayat tersebut secara eksplisit melarang ummat Islam memilih pemimpin non-muslim, menghimbau seluruh ulama anggota MUI agar memberikan pesan yang sama, dan menghimbau seluruh ummat muslim untuk menggunakan ayat ini sebagai dasar dalam pemilihan pemimpin di Pemilu dan Pe...

Aksi Masa Bela Islam: Isu Multi-Dimensi

Menelaah Sekaligus Menyoal Aksi Masa Bela Islam di Indonesia Aksi bela Islam merespon Ahok menarik diperhatikan, terutama aksi pada tanggal 4 November dan 2 Desember. Aksi ini menyedot banyak perhatian masyarakat akar rumput Indonesia. Eskalasi reaksi atas satu cuplikan perkataan Ahok dari sebatas kemarahan di media sosial hingga aksi yang diklaim diikuti oleh jutaan orang memberikan reaksi beragam dikalangan masyarakat.  Ada ketakutan yang sangat kental karena sentimen anti etnis tiongkok meningkat bersamaan dengan dipupuknya egoisme kelompok mayoritas. Ada juga pembuktian bahwa aksi masa yang damai dapat dilakukan seperti yang terjadi pada 2 Desember ini. Ada skeptisisme yang muncul bahwa pergerakan ini ditunggangi dan didanai aktor dengan kepentingan politik. Untaian reaksi yang tidak berkesudahan dan hampir pasti tidak akan terangkum lengkap di satu tulisan.  Benang merah yang jelas terjadi adalah bahwa terjadi polarisasi isu sehingga...

Insomniac Night

Sulit tidur lagi. Daripada memaksakan tidur dan jadinya melamun memikirkan hal-hal mengerikan, lebih baik menulis. Mau kontribusi apa kita di dunia? Saat tentara Israel di awal minggu ini baru saja membunuh beberapa pemuda Palestina dan dunia tidak berteriak. Saat negara Indonesia sedang dilanda berbagai macam isu yang membuat kita bertanya: apa kerjanya wakil rakyat? apa kerjanya pemerintah? dimana orang orang pintar? saat rakyat Indonesia sebagian besar hanya bisa mengkonsumsi barang impor dan tidak bisa berinovasi.  Mau kontribusi apa? Permasalahan itu hanya besar karena kita belum cukup mampu mengatasinya. Seiring berkembangnya kita, semakin kita akan melihat permasalahan-permasalahan yang tadinya seperti sebesar gunung, menjadi bukit-bukit kecil yang lebih mudah ditaklukan.  Untuk saat ini, latihan mengerjakan permasalahan statistika, menyelesaikan dan mencoba mengerti logika berfikir matematika, membaca dan menganalisa neraca keuangan, pernyataan pendapat...

Pak Tota

This may be the first time I make note about my lecturer in ITB. Pak Tota is one of the many lecturers who leave a long lasting impression on me. It was started about 3 years ago when I first got his course "Cost Estimation" and later failed his class. This note though is not intended for me to nag about his course but what I have learned from his teaching style. The largest question mark that has been lingering for me from the moment I entered ITB was what is it that ITB has to offer for me? 1st year in ITB is a preparation phase. We called it TPB (Tahap Persiapan Bersama). For me it was just another extension of high school and it was both uninspiring and emotionally draining. I spent 4-years of high school that normally only took 3 years due to Exchange Student experience to USA. In High School, I suspect that I did not have both the awareness to learn and interest to learn about the subject systematically and comprehensively. As a result, by the time I gradua...